Jumat, 14 September 2012

PERENCANAAN TRANSPORTASI



LINGKUP DAN KONTEKS

1.1. PENDAHULUAN
Setengah abad yang lalu, masalah transportasi barangkali belum merupakan sesuatu yang harus ditangani tersendiri, jumlah dan jarak perjalanan yang ditempuh seseorang nisbi masih terbatas. Hubungan antara satu tempat dengan tempat lain masih sulit, ukuran tempat permukiman masih sangat terbatas, kegiatan yang ada didalam permukiman itu pun masih belum seberapa.
Sekarang, ukuran permukiman sudah sangat luas, yang kita kenal sebagai kota, bahkan di negara yang telah maju dikenal istilah kotarayaatau metropolis dan adikota atau megapolis dengan berbagai macam kegiatan ada di dalamnya. Kebutuhan untuk mengadakan hubungan pun sudah jauh berbeda dengan di masa lalu karena kebudayaan yang semakin maju dan saling mempengaruhi.
Ketika manusia belum mengenal alat angkut, dan bahkan sampai dengan manusia memanfaatka penemuan roda dan menciptakan kendaraan beroda, belum dirasakan perlunya memikirkan dan merencanakan kegiatan transportasi. Perhubungan antara satu tempat dengan tempat lain dilakukan demikian saja dan bahkan sama sekali tidak dilalui satu jalur transportasi yang khusus dibuat. Tetapi dengan kemajuan ilmu pengetahuan, kemajuan kebudayaan manusia, dan produksi berbagai jenis alat angkut dan perhubungan secara besar-besaran, simpang siur lalu lintas sudah tidak mungkin lagi lepas dari pengamatan dan perhitungan perencana.
Meningkatnya jumlah manusia menyebabkan makin besarnya wilayah yang dihuni manusia dan makin besarnya jumlah lalu lintas. Ditambah dengan makin banyaknya jumlah jenis kendaraan yang beroperasi untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia, hal diatas telah menyebabkan transportasi menjadi masalah yang bharus ditangani secara khusus, walaupun tidak sendiri.
Masalah yang dihadapi oleh kota besar dimanapun bukan hanya masalah sosial yang berbagai macam bentuknya, tetapi diantaranya adalah juga persoalan transportasi. Persoalan ini bukan masalah tersendiri, karena didalamnya terkandung juga faktor manusia, ekonomi, sarana dan prasarana, administrasi, dan berbagai faktor lainnya yang ada.
Jumlah manusia yang makin banyak dan berada di suatu wilayah yang sama, kebutuhan mengunjungi suatu tempat yang sama pada saat yang sama, terbatasnya obyek yang bersama-sama dibutuhkan, telah menimbulkan berbgai konflik yang cukup gawat. Konflik ini tercermin dari lalu lintas sehari-hari di jalan, pemusatan berbagai jenis kendaraan di suatu tempat, jumlah manusia yang sama-sama memerlukan alat angkut yang sama, dan lain-lain.
Semua hal tersebut diatas merupakan persoalan transportasi yang antara lain tercermin dalam bentuk meningkatnya kecelakaan lalu lintas. Persoalan ini tidak hanya terjadi di darat (kota) saja, tetapi bahkan sudah sejak lama menjadi persoalan di laut/air dan angkasa. Kita ketahui bahwa kecelakaan dan tabrakan tidak hanya terjadi didarat, tetapi juga terjadi di laut/air dan di angkasa.
Perkembangan jaringan jalan kota yang tidak mampu mengejar (atau ketinggalan oleh) perkembangan sarana transportasi, telah menghadapkan kota yang sedang tumbuh pada tantangan masalah yang sangat pelik. Di satu pihak, kota dihadapkan pada kenyataan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk ruang kehidupan dan penghidupan penduduknya, dan lain pihak, kota juga dihadapkan pada tantang menyediakan berjalur-jalur lahan untuk prasarana lalu lintas.
Banyak sekali kota yang berkembang tidak seimbang, perkembangan sosial ekonomi yang pesat tidak sejalan dengan perkembangan fisik yang lamban. Akibatnya, kota tersebut menderita berbagai penyakit yang sangat sukar disembuhkan. Salah satu diantaranya adalah penyakit pada pembuluh darahnya yang berupa jalur jalan. Kota dihadapkan pada persoalan transportasi angkutan berat. Kecelakaan meningkat, kemacetan terjadi dimana-mana, berbagai jenis kendaraan berjubel di jalan raya, disiplin lalulintas merosot, kemampuan atau daya dukung jalan dan jembatan tidak sesuai dengan beban yang harus didukungnya dengan akibat jalan cepat rusak, jembatan ambruk dan sebagainya. Kebutuhan penduduk akan  sarana transportasi dalam berbagai derajat ukuran kota telah mencapai titik kemampuan maksimum sarana yang ada.


1.2. MAKSUD PERENCANAAN TRANSPORTASI
Suatu perencanaan transportasi dimaksud untuk mengatasi masalah transport yang terjadi sekarang dan yang mungkin terjadi dimasa mendatang. walaupun masalahnya tidak akan terpecahkan secara tuntas, namun dapat merupakan jalan yang paling efektif untuk memanfaatkan sumber-sumber yang langka yang juga sangat dibutuhkan untuk sektor-sektor perumahan, pembuangan kotoran, drainase, kesehatan, pendidikan dan yang lainnya.
Perkembangan jumlah penduduk, perindustrian dan ekonomi telah meningkatkan tuntutan kehidupan dan penhghidupan masyarakat yang harus diwujudkan dalam tata kehidupan pemukimannya. Kota adalah permukiman yang sudah maju dan untuk mewujudkan tata kehidupan yang mendekati ideal dituntut suatu perencanaan transportasi. Dengan lain perkataan, perencanaan wilayah ataupun daerah tidak mungkin terlepas dari perencanaan transportasi.
Blunden (1971) mengaitkan perencanaan transportasi dengan tata guna lahan wilayah yang dikatakannya mempunyai dua tujuan pokok, yaitu :
  1. meningkatkan daya guna sistem yang sudah ada.
  2. merencanakan perkembangan dan merencanakan pertumbuhan di masa yang akan datang.
Dari sini nyatalah sudah bahwa pada masa kini, perencanaan transportasi sudah merupakan kebutuhan yang tidak dapat di abaikan.
Perencanaan transportasi sangat dibutuhkan sebagai konsekuensi dari (Overgaard, 1966, 12) pertumbuhan, keadaan lalu  lintas, dan perluasan wilayah.
Yang pertama, pertumbuhan daerah, perlu direncanakan jika diketahui atau diharapkan bahwa penduduk disuatu tempat akan bertambah dan berkembang dengan pesat. Juga jika tingkat pendapatan penduduk di suatu tempat akan bertambah dan berkembang dengan pesat. Juga tingkat pendapatan penduduk meningkat, karena hal ini mengakibatkan meningkatnya jumlah kendaraan dan perumahan, peningkatan kepadatan rumah berarti peningkatan jumlah rumah.
Yang kedua, yaitu keadaan lalu lintas, perlu ditinjau kembali kesesakan dan kemacetan di jalan meningkat, serta bila sistem pemindahan massa tidak ekonomis lagi sehingga perlu di koordinasi. Akhirnya, perluasan kota perlu dikendalikan bila pemerintah kota menghendaki agar perencanaan transportasi mempengaruhi perluasan kota tersebut.
Persoalan lalu lintas, seperti halnya berbagai persoalan lain, timbul sebagai usaha menyatukan sejumlah tujuan yang berbeda-beda. Penduduk ingin bergerak dalam wilayahnya dengan cepat, aman, murah, dan nyaman. Lebih dari itu, ada 2 (dua) hal lain yang menambah masalah, yaitu adanya sejumlah keinginan yang terjadi pada saat yang sama, karena ikatan waktu, misalnya pergi ke tempat kerja, pergi belanja, pergi ke sekolah, dan lain-lain. Kedua, ada sejumlah keinginan untuk pergi dan/atau ke tempat yang sama, karena ikatan kebutuhan.
Lalu lintas, secara umum, adalah pergerakan manusia dan/atau barang. Titik perhatian perencanaan transportasi adalah manusia dan barang. Jadi, perencana transportasi mutlak perlu mengetahui bagaimana (dengan cara apa) manusia dan barang tersebut bergerak dan dengan tujuan apa mereka bergerak.
Hal bagaimana, misalnya, manusia melakukan perjalanan dengan menggunakan alat yang sesuai dengan kepentingannya. Bila hanya melakukan perjalanan dekat, ia akan berjalan. Apabila jarak perjalanan cukup jauh, ia membutuhkan alat gerak mekanis (sepeda, sepeda motor, mobil, bus dan sebagainya). Di kota besar seperti Jakarta, Medan, Surabaya, Semarang, kurang lebih 70 % perjalanan menggunakan sarana mekanis.
Adapun tujuan orang melakukan perjalanan dengan maksud untuk memenuhi berbagai kebutuhannya, misalnya berbelanja, bekerja, berwisata, dan lain-lain.

1 komentar: